Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

KATA YANG BUGIL

*jadda Bambang Priyadi

Namun, aku penyair
Adakah beda bilamana dan bagaimana
penyair,,, kata,, kata yang menggila
atau kita dalam kata..
atau bahkan seperti dan separah sajak ku
yang telah usang ditelan rayap
dengan Kita Hanya Kata menjadi judulnya,,
sajak untuk Nayaka..Dulu..

Kata yang bugil
Kita yang menggigil,,
Pada pucuk daun cemara
yang anginnya berkesiur
Tanpa kata..dan rupa..
Telah kehabisan ruang katanya
dalam ruang tamunya

Masih ku ingin bait puisimu
dan hanya untuk ku

Pada siang yang merangkak
dan matahari yang telah bengkak

Dan bila tintamu tercecer,
hangdam telah patah,
kuas dan warna telah kering,
kertas pun tak kalah usang,
Adakah mereka untukku,,?
Adakah kata yang tersisa
dan kembali bermula

Aku ingin intim lagi
dengan bait-baitmu, di kala aku sengaja pergi

Ana Diana Solich
-yakin usaha sampai-

Sabtu, 23 Juni 2012

AIR


وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan  mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Al-Furqaan:54)

Kita adalah air
yang mengalir dari comberan
melewati berbagai rantai makanan
menuju tempat penyimpanan
dimuntahkan pada wadah persemaian
lalu
tumbuh, tumbuh dan tumbuh
menjadi kita yang kasar,
kita yang sombong,
kita yang pemarah,
kita yang merasa paling kuat perkasa

Air adalah aku
Air adalah kau
Suaramu suara air
yang kadang berdesah lembut laksana butir-butir air yang terbawa angin semilir
terkadang berisik ramai bagai jeram

Tabiatmu tabiat air
yang kadang dingin bagaikan salju
kadang panas menggelegak bagai air mendidih

Andap asormu pekerti air
yang kadang tawadlu
laksana air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah
dan terkadang takabur membubung dada membesar kepala
laksana air menguap ke angkasa mengancam bagai mega-mega

Ketegaranmu ketegaran air
yang terkadang kukuh menjulang laksana gunung es abadi
dan terkadang luluh menggenang terombang-ambing tanpa pendirian
bagai air di atas daun talas

Kekuatanmu kekuatan air
kadang tanpa daya bagai rintik hujan jatuh tertelan bumi
dan terkadang buas bagaikan air bah yang menerjang menelan dan menelanjangi bumi
menghanyutkan mencerabut pasak-pasak bumi

Kesabaranmu kesabaran air
yang terkadang menyejukkan bagai tetes embun di padang gersang
dan terkadang penuh angkara murka
bagaikan gelombang pasang yang siap menghancurkan segalanya
hingga kau lupa dan berkata,”Kau, kau belum tahu, siapa aku?”

Ah .. kau
Kau,
Kau,
hanyalah air (crut!)

O.. air
Buang kata kerasmu!
Singkirkan kesombonganmu!
Simpan amarahmu!
Kendalikan kekuatanmu!
Agar kau menjadi air yang kubutuhkan
Agar aku menjadi air yang kau butuhkan

Tatkala haus, kuminum engkau
T atkala lapar, kutanak beras dengan engkau
Tatkala panas menyengat, kuberendam dalam angkau
Tatkala tubuhku rusuh, dekil, dan kotor, kumandikan dengan engkau
Tatkala aku mohon ijin ke belakang, kubuang engkau yang kecil yang sedang dan yang besar
Lalu kubasuh engkau dengan engkau

Tatkala emosiku memuncak,
amarahku menggelegak,
gigiku gemeretak,
mataku melotot membelalak,
berdiriku di atas kaki yang tegak
di atas meja tanganku menggebrak
angkara murka membuat kepalaku hampir meledak

tatkala itu
kusiram engkau
dengan air.


                                                                                               Ana Diana Solich


Jumat, 01 Juni 2012

EMBUN

Ajamuddin Tifani


Kuburu Engkau dengan menapaki tanda-tanda
jejak, sambil bertiti di busur waktu
aku senantiasa percaya padaMu
aku terlalu salah bukan, untuk menjadi terompahMu.



Dengan pengertian yang bagaimana
aku sampai padaMu
biar dengan cara yang paling hina sekalipun

Kau imami kami pada sekali salat maghrib
tiba pada salam bagi yang di langit
salam bagi yang di bumi
salam bagi yang bermukim
di antara langit dan bumi
seusai itu, Engkaupun lenyap.

Sudah tak patut langkah rumah ini, ya Kekasih
yang telah tumbuh busuk di degup jantungku
yang kubangun dari bulir darah
dan sumsumku.

Ah, surau yang berada di dalam hatiku
lampu pijar lamat di tanjung yang sepi itukah
dari berjuta-juta, berjuta-juta
sinyalMu, Kekasih


Minggu, 27 Mei 2012

Rumah Puisi

Ajamuddin Tiffani


Mengapa masih jua limpas rindu lautmu
setelah kuciptakan surau di puncak karang
setelah kuhiasi langit malammu
dengan tujuh puluh ribu kubah-kubah Al-Fatihah
dan merajuk pasir di seluruh pantaiku untuk mengaku
pasir zikirku, pasir lautmu


lah kutimang-tandas tikammu, sedarah-darah
lah kubuai timpas-suburmu, sepasir-pasir
lah kusudahkan getir khuldimu, setangis-tangis


geramku tak jua memahami rahasia cinta
yang kau tetaskan di sarang-sarang gelisahku
yang senantiasa bergetar, senantiasa amarah
pada jarak dan waktu


mengapa masih jua ratap deram lautmu
padahal di lubuknya sudah kutanam pohon angsanaku
tempat camarku membangun rumah puisinya
tempat daun keringku menyelesaikan kepunahannya