Sabtu, 23 Juni 2012

AIR


وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan  mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Al-Furqaan:54)

Kita adalah air
yang mengalir dari comberan
melewati berbagai rantai makanan
menuju tempat penyimpanan
dimuntahkan pada wadah persemaian
lalu
tumbuh, tumbuh dan tumbuh
menjadi kita yang kasar,
kita yang sombong,
kita yang pemarah,
kita yang merasa paling kuat perkasa

Air adalah aku
Air adalah kau
Suaramu suara air
yang kadang berdesah lembut laksana butir-butir air yang terbawa angin semilir
terkadang berisik ramai bagai jeram

Tabiatmu tabiat air
yang kadang dingin bagaikan salju
kadang panas menggelegak bagai air mendidih

Andap asormu pekerti air
yang kadang tawadlu
laksana air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah
dan terkadang takabur membubung dada membesar kepala
laksana air menguap ke angkasa mengancam bagai mega-mega

Ketegaranmu ketegaran air
yang terkadang kukuh menjulang laksana gunung es abadi
dan terkadang luluh menggenang terombang-ambing tanpa pendirian
bagai air di atas daun talas

Kekuatanmu kekuatan air
kadang tanpa daya bagai rintik hujan jatuh tertelan bumi
dan terkadang buas bagaikan air bah yang menerjang menelan dan menelanjangi bumi
menghanyutkan mencerabut pasak-pasak bumi

Kesabaranmu kesabaran air
yang terkadang menyejukkan bagai tetes embun di padang gersang
dan terkadang penuh angkara murka
bagaikan gelombang pasang yang siap menghancurkan segalanya
hingga kau lupa dan berkata,”Kau, kau belum tahu, siapa aku?”

Ah .. kau
Kau,
Kau,
hanyalah air (crut!)

O.. air
Buang kata kerasmu!
Singkirkan kesombonganmu!
Simpan amarahmu!
Kendalikan kekuatanmu!
Agar kau menjadi air yang kubutuhkan
Agar aku menjadi air yang kau butuhkan

Tatkala haus, kuminum engkau
T atkala lapar, kutanak beras dengan engkau
Tatkala panas menyengat, kuberendam dalam angkau
Tatkala tubuhku rusuh, dekil, dan kotor, kumandikan dengan engkau
Tatkala aku mohon ijin ke belakang, kubuang engkau yang kecil yang sedang dan yang besar
Lalu kubasuh engkau dengan engkau

Tatkala emosiku memuncak,
amarahku menggelegak,
gigiku gemeretak,
mataku melotot membelalak,
berdiriku di atas kaki yang tegak
di atas meja tanganku menggebrak
angkara murka membuat kepalaku hampir meledak

tatkala itu
kusiram engkau
dengan air.


                                                                                               Ana Diana Solich


Tidak ada komentar:

Posting Komentar